BACK

Steel Pipe Industry (ISSP) sudah serap seluruh capex 2019

02 December 2019

Emiten produsen pipa baja dan besi PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (Spindo) mampu menyerap belanja modal dengan maksimal di sepanjang 2019.

Wakil Direktur Utama Spindo, Tedja Sukmana Hudianto menjelaskan Belanja modal atau capital expenditure (capex) di tahun ini sebesar Rp 50 miliar sudah terserap semua.

“Penyerapan belanja modal di tahun ini sudah moncer. Adapun capex diserap untuk kebutuhan efisiensi mesin di luar maintanance, pembelian mesin potong, mesin las akumulatif,” jelasnya saat ditemui Kontan.co.id di Sidoarjo, Selasa (26/11).

Tedja menyatakan belanja modal tahun depan dipastikan bakal lebih besar dari tahun ini. Namun Tedja belum mau membeberkan berapa persisnya besaran belanja modal tahun depan.

Meski demikian, Tedja bisa memberitahukan beberapa rencana investasi emiten berkode saham ISSP di BEI tahun depan. Di antaranya, upgrade satu line mesin galvanis yang sebelumnya masih manual menjadi otomatis. Dengan itu diharapkan secara hitung-hitungan kasar efisiensi cukup besar.

Upgrade mesin Galvanis ditargetkan akan rampung di kuartal III 2020. Nilai investasi untuk upgrade sekitar Rp 8 miliar. Tedja bilang upgrade satu mesin saja sudah menambah kapasitas cukup signifikan. Bahkan katanya bisa tumbuh hingga lima kali lipat dari sebelumnya.

Selain memperbarui mesin Galvanis, Spindo juga akan melakukan efisiensi di mesin lainnya. Ada dua mesin cutting di unit tiga yang akan diganti. Dengan adanya efisiensi ini utilisasi bisa tumbuh 10% yoy dari sebelumnya 60% di 2019 menjadi 70% di 2020 nanti.

Adapun gudang tetap dicanangkan setahun ada dua gudang yang akan dibuka. Tedja menjelaskan cara ini dilakukan untuk mencapai pasar yang belum dimasuki. Selain itu juga akan meningkatkan konektivitas distribusi. Rencana paling dekat adalah penyelesaian depo di Makassar pada kuartal III 2020.

Sekretaris Perusahaan dan Investor Relations ISSP Johannes Edward menambahkan rencana pengembangan serta efisiensi akan gencar dilakukan hingga 2021. “Spindo juga akan lakukan digitalisasi pada sistem head office dan improvement operasional sale lewat digital marketing,” ujarnya.

Pengembangan marketing lewat sosial media untuk sosialisasi produk Spindo juga akan dimaksimalkan. Johannes mencontohkan, perusahaan memiliki akun Facebook yang memberikan peringatan bagi masyarakat atau calon karyawan terkait penipuan. Adapun akun Instagram-nya banyak memberikan program menarik serta pengenalan produk Spindo.

Sementara, selain memperbarui mesin Galvanis, Spindo juga bakal melakukan digitalisasi truck. Johannes menjelaskan digitalisasi ini diterapkan untuk memonitor operasional armada. Nantinya dengan digitalisasi ini Spindo mampu menekan cost of fund 10% atau Rp 40 miliar setiap tahunnya.

SUMBER